Jumat, 30 Januari 2015
Kebiasaan jajan dengan terbentuknya generasi
“Didiklah anakmu dengan kesulitan” kening saya langsung berkerut membacanya, “Agar mereka tumbuh dan mengerti betapa besar karunia Allah”. Yup! Saya langsung mengerti setelah selesai membaca nasihat tersebut. Jujur, saya setuju 100 % dengan pepatah ini. Mengapa?
Orang tua zaman sekarang banyak berbeda dengan orang tua zaman dahulu dalam hal mendidik anak. Ibu-bapak kita bahkan nenek kakek kita dibesarkan dengan segala kesulitan hidup, kita tak bisa menyalahkan zaman, karena memang zaman kita dan anak kita pun sudah sangat berbeda, semua generasi punya jiwa zamannya sendiri. Di sisi lain, ada beberapa bentuk ‘didikan’ orang tua zaman dulu yang patut kita terapkan kepada anak cucu kita. Bentuk didikan inilah yang saya fikir tak banyak diterapkan oleh orang tua zaman sekarang, kini para orang tua cenderung memberikan segala kemudahan terhadap anak, banyak yang tidak tega dan tentu tidak ingin anaknya mengalami segala kesulitan yang pernah dialaminya dulu. Padahal, bentuk kasih sayang inilah yang nantinya menjadi boomerang bagi si orang tua.
Dalam hal kecil saja dan bisa dikatakan sangat sepele tapi dampaknya begitu besar terhadap perkembangan mental si anak kelak ketika dia dewasa. Kita ambil contoh kecil itu yakni : JAJAN. Banyak orang tua yang membiasakan anaknya untuk ‘mengenal ‘ jajan di usianya yang masih sangat kecil. Mungkin awalnya hanya berniat untuk meredakan tangisan anak yang lagi rewel, atau mungkin bagi beberapa orang tua ‘jajan’ ini merupakan bentuk kasih sayang, bahkan ada yang berfikir jajan adalah bagian dari kebutuhan sang anak.
Padahal kebiasaan jajan ini punya dampak negative bagi perkembangan mental anak, banyak anak yang dibesarkan dalam kebiasaan jajan ini menjadi pribadi yang konsumtif dan manja, di mana ketika dia punya keinginan harus dikabulkan saat itu juga, entah orang tuanya punya uang atau tidak. Demikian, anak tumbuh menjadi pribadi yang pemaksa, dimana sang anak berfikir bahwa tugas orang tua lah yang harus memenuhi segala kebutuhan anak, tidak peduli ada atau tidak uang yang dimiliki. Sehingga anak tidak bisa menerima sebuah penolakan dan sebuah kenyataan bahwa mereka harus ‘berjuang’ sendiri untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui sebuah proses.
Contoh kasus banyak diberitakan anak yang tega membacok sampai membunuh orang tuanya hanya gara-gara tidak diberikan sepeda motor, padahal si anak masih SMP!. Kadang saya tak habis pikir, hanya karena alasan jarak anak-anak ini tak mau jalan kaki, atau alasan gengsi karena punya motor ke sekolah itu keren.
Beruntunglah saya, mendapat didikan prihatin padahal orang tua saya bisa dibilang ‘berada’. Sedari kecil ketika tukang dagang lewat di depan rumah, hampir semua anak tetangga seusiaku berebut dan merengek untuk minta dibelikan, tapi saya dan adik juga kakak saya malah anteng bermain tanpa ada keinginan untuk jajan. Ketika SMP, jarak sekolah dan rumah sekitar 4km, ketika anak yang lain memakai ojek atau di berikan motor, saya tetap memilih jalan kaki –pulang pergi-, si SMP inilah saya mendapatkan tanggung jawab untuk mengelola uang untuk pertama kalinya, uang tersebut sebesar Rp20000 per bulan, saya tabungkan ke bank. Untunglah saat itu saya selalu membawa bekal nasi ke sekolah. Beranjak SMA, suang bulanan sebesar Rp150,000,- per bulan (untuk angkot, LKS dan SPP).
Ketika istirahat tiba anak-anak lain sibuk menyerbu tukang dagang, tapi saya dan segelintir teman-teman lebih memilih sholat dhuha sampai istirahat selesai. Di SMA inilah saya mulai menggunakan sepeda kumbang yang begitu saya ingin miliki –korban film-film korea- teman saya yang lain tentu banyak yang memakai motor, namun saya tidak pernah minder, justru saya sangat bangga bisa mengayuh sepeda (terasa jadi persis seperti artis korea hehehe.. sepeda ria ini berlanjut sampai saya bekerja). Ketika di Universitas, Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa sebesar Rp3000,000,- per semester (uang ini tetap utuh saya tabungkan) dengan subsidi uang Rp 250,000,- per bulan (untuk makan, buku, foto copy, warnet, ongkos dll), memang tak cukup, tapi saya tak menyerah, kebetulan saya aktif di berbagai organisasi dan disitulah kadang saya mendapatkan konsumsi atau sekedar snack saja, jika acara wisuda datang saya bersama teman berjualan donat atau kripik pedas dikampus, pernah juga menjadi pegawai dibagian gudang (harus angkut sana angkut sini) di salah satu mall di Bandung. Padahal, mungkin saya bisa saja minta kepada orang tua uang tambahan, minta ini itu (motor, laptop, uang jajan dll). Entah, saya selalu malu untuk meminta dan selalu berfikir orang tua saya pun sudah lelah untuk membiayai sekolah anak-anaknya.
Soal saya pernah bekerja ini itu dan jualan ini itu, orang tua tak pernah tahu karena pasti mereka akan melarang. Saya baru bisa menceritakannya setelah saya lulus. Hehehe… Makanya, saat saya lulus dan sejenak menjadi pengangguran selama 1 bulan saya terhitung bukan pengangguran kere. Hehehe… pertama kali bekerja menjadi pengajar di sebuah bimbel gaji pertama yang saya dapatkan adalah Rp80.000,- per bulan. Tragis…! Tapi itu menjadi pemicu saya untuk lebih semangat dan rajin bekerja, perlahan-lahan gaji saya naik. Tawaran mengajar pun kembali datang di sebuah sekolah dasar swasta, kehidupan saya pun semakin baik. Perbulan saya bisa mendapatkan gaji Rp 600,000 per bulan sampai Rp 800,000 per bulan. Oh, ya.. semenjak lulus uang subsidi dari orang tua tak pernah lagi saya terima.
Dari hasil yang tak seberapa saya bisa berqurban dan membeli perhiasan sendiri.. mungkin dari pengalaman saya ini terlihat saya mempunyai orang tua yang ‘kejam dan pelit’. Bukan, mereka bukan seperti itu, orang tua saya berprinsip kepada kami anaknya, “harus bisa belajar hidup sederhana, kalau nanti kelak kalian berumah tangga dan harus menemani suami dalam keadaan dari nol kalian bisa bertahan”.
Dan, Alhamdulillah pendidikan yang orang tua berikan begitu bermanfaat, tentunya saat saya harus tetap mendampingi suami yang dimana pernikahan kami harus dimulai dari nol, harus bisa bertahan, setia, bersabar dan tetap yakin untuk kedepannya. Yang paling terpenting adalah, saya bisa mengelola keuangan keluarga.
Nah, masihkah anda menganggap jajan adalah bentuk kasih sayang? Semoga pengalaman hidup ini bisa menjadi ibroh bagi kita semua, termasuk saya sendiri yang kini sudah menjadi orang tua. Hihihi…
Anda boleh setuju, boleh tidak..
Salam lima jari, bye.. bye…
Rancaekek, 28 januari 2015.
Maryanah_strong.
Keajaiban dari doa
“Doa adalah senjata orang muslim” hadist ini betul sekali. Tentu masing-masing dari kita pernah merasakan dari keajaiban doa ini, entah itu mungkin dari yang asalnya sakit jadi sembuh, dari asalnya putus asa jadi optimis, dari miskin menjadi kaya dan banyak contoh lainnya.
Sedikit pengalaman yang ingin saya bagi, mudah-mudahan bisa menjadi penyemangat bagi semuanya, termasuk bagi saya sendiri agar bisa terus mengingat begitu luas karunia Allah SWT dan sesuai firman-Nya :
“ bersama kesulitan ada kemudahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan” (Qs. Al-insyirah 5-6)
Keajaiban pertama yang pernah saya alami adalah ketika ingin sekali kuliah. Bukan karena masalah biaya, tapi saya begitu menyadari keterbatasan otak dalam hal pelajaran, terutama pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Akuntansi dan Ekonomi (hihi… maaf kebanyakan >< ‘), di luar pelajarann itu saya suka terutama Sejarah, PKN, Agama dan Bahasa Indonesia.
Setiap pembagian raport tiba adalah moment paling mendebarkan dalam hidup saya, karena setiap usia dibagi rapor dan pulang ke rumah pasti Mamah men-Damprat pipi saya ( Plak..!.), hasil Matematika, Bahasa Inggris dan Akuntansi saya selalu merah. Entah bagaimana pikiran saya saat itu sampai saat ini pun saya tidak mengerti kenapa kejadian Damprat itu selalu terulang setiap tahun. Hahaha…
Tibalah untuk ujian masuk Universitas, di sanalah saya benar-benar baru punya keinginan untuk belajar, tapi mungkin sudah telat karena dalam waktu singkat harus menjejal semua pelajaran yang saya tidak suka. Iseng-iseng ikut PMDK tidak lolos, hiks.. beruntunglah saya adalah orang yang punya potensi ‘semangat 45’, gagal di PMDK saya berjuang di SPMB. Kala ujian SPMB ini sumpah, saya sambil merem saat mengisi Matematika dan Bahasa Inggris. Jujur, angka-angka dan huruf di kertas itu bagaikan sisa-sisa nasi yang berserakan, ingin sekali menyapunya. Sambil menunggu pengumuman selama kurang lebih sebulan lamanya, saya betul-betul pasrah. Terbayang sudah saya gagal, mungkin masa depan saya ada di kursi pelaminan atau tidak sedang menggunting rambut orang di salon. Heu..
Doa! Y a saya berdoa sangat keras. Semua salat sunah saya kerjakan, dari mulai solat Dhuha, Solat tahajud dan sholat hajat. Tak lupa, berzikir dan mengaji surat Al-Waqiah (sampai saya hafal surat Al-Waqiah). Setiap salat dan mengaji air mata selalu berlinang… sumpah ini nggak lebay!.
Sebulan kemudian…
Tak ada namaku di Koran yang saya beli sebelum azan shubuh. Saya gagal SPMB! Saya putus asa? Tidak! Saya harus kuliah bagaimana pun caranya!. Doa lebih saya perkuat. Keajaiban pun datang, tak lama setelah hari pengumuman SPMB datang, tiba-tiba Pak Pos datang. Alangkah bahagianya saya ternyata si Pak Pos mengantar sebuah surat.
Ini bukan sembarang surat, melainkan surat lulus PMDK jalur khusus (berhubung penambahan kuota) apalagi dari Universitas yang saya inginkan dan jurusan yang saya sangat sukai. Alhamdulillah, lewat doa Allah memberiku jawaban dan kesempatan kedua. Rezeki yang tidak disangka-sangka bukan? Saat itu saya berjanji akan belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Nazar saya lunas, terbukti saya lulus tepat waktu bahkan bisa di bilang paling awal dari pada teman-teman yang lain dengan IPK yang sangat memuaskan.
Keajaiban kedua saat saya tengah begitu didesak untuk menikah oleh keluarga, berhubung usia saya sudah 24 tahun, sudah saatnya menikah. Kala itu saya naksir berat sama teman sepekerjaan saya, hanya saja lelaki itu terus menggantung hati saya di pohon beringin hahaha… dia tidak pernah memberi saya kepastian, malah mundur seribu langkah ketika di ajak ke arah serius. Lalu ada juga pilihan lain dari keluarga, lelaki yang masih kerabat. Statusnya duda dan usianya jauh lebih tua dari saya. Saya pun menolaknya dengan perjuangan yang cukup berat karena harus berselisih dengan keluarga yang cenderung memaksa. Apa karena dia duda? Atau sudah berumur? Tidak! Sama sekali bukan itu alasannya. Satu saja yang bisa saya ungkapkan yakni hati saya tidak ridho. Bukan karena tidak cinta, karena saya selalu berprinsip cinta itu bisa ditumbuhkan setelah pernikahan. Intinya saya tidak pas dengannya, dan seperti ada dorongan yang sangat kuat untuk menolaknya.
Suatu ketika saat saya lelah dengan urusan hati ini, dalam satu tahajud saya berdoa dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan yang seikhlas-ikhlasnya tanpa ada todongan serta pemaksaan kepada Allah agar saya di jodohkan dengan si anu atau si anu. Posisi hati saya begitu netral. Kira-kira begini doanya :
“Ya Allah… berikan saya jodoh yang terbaik menurutmu, baik bagi agamaku, akhiratku dan masa depanku. Pokoknya hamba pasrahkan kepadaMu..”
Apa yang terjadi???
Doa super ikhlas itu terjawab begitu singkat. Esok harinya adik saya menelepon, memberitahuku bahwa seorang ikhwan yang 2 tahun lalu pernah memberikan biodata ta’arufnya padaku, yang biodata serta fotonya itu saya buang mentah-mentah, dan saya pun menolaknya karena urusan yang tidak syar’I malah kembali menawarkan ta’aruf. Padahal… saya pernah menolaknya, menghinanya, dan kami tidak pernah bertemu sama sekali, tidak pernah berkomunikasi dan terlebih saya tidak pernah terlintas untuk mengingat-ingatnya sama sekali (jujur saya sudah lupa dengan ikhwan ini). Namun entah kenapa ikhwan ini malah kembali mengajak ta’aruf setelah sekian lama, padahal saat ini dia bisa saja mencari atau memilih akhwat lain. Tapi dia malah kembali padaku .. ah, terharu… prikitiw!
Seperti ada kekuatan maha dahsyat yang menggerakan hati kami dan proses yang kilat. Ya, kami hanya butuh 3 bulan sampai pada pernikahan, dengan proses yang mendapatkan kemudahan. Padahal saat itu sebuah musibah terjadi, yakni Bapak yang tiba-tiba kena serangan jantung. Sempat berfikir untuk mengurungkan niat pernikahan, dengan alasan masih dalam keadaan prihatin atas kejadian yang bapak alami. Saya berfikir, biaya bapak tidaklah sedikit. Namun keajaiban terjadi, Askes yang dimiliki bapak sangat bermanfaat. Operasi dan biaya rumah sakit bapak ditanggung Askes.
Namun, saya masih terjebak dalam fikiran untuk mundur dari pernikahan, mungkin untuk beberapa tahun ke depan, sampai kondisi rumah dan keluarga kembali kondusif. Entah… entah kekuatan apa yang menggerakan semuanya, hingga berbagai rintangan bisa diterjang. Apakah aku mencintainya? Jawabannya tidak sama sekali, namun ada sesuatu keyakinan yang kuat…
Akad nikah pun terlaksana… setelah apa yang sebelumnya terjadi… jika Allah berkehendak maka “Kun Fayakun” “ maka jadilah!”… langsung saya tersadar oleh kilasan kenangan 5 tahun silam.
Saat di sebuah toko di dekat kampus, saya menemukan sebuah buku yang berjudul Cinta yang terlambat, di sampul buku tersebut tertulis kata yang sudah begitu membuat saya jatuh cinta sampai hari ini..
“Sebagian orang berdoa agar mereka bisa menikahi lelaki yang mereka cintai, doaku sedikit berbeda, dengan lembut aku memohon kepada tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi..”
Keajaiban ke tiga adalah saat saya harus di rawat karena terkena Hiperemesis, usia kehamilan saat itu 4 bulan. Tanpa gengsi saya akan katakan di sini, suami saya saat itu masih karyawan kontrak di perusahaan BUMN. Tentulah gaji yang didapatkan jauh dengan karyawan tetap. Terlebih kami LDR an karena saya pun masih terikat kontrak di salah satu sekolah swasta.
“Kang, gimana untuk biaya rumah sakit? Aku takut tabungan kita tidak cukup. Apalagi itu untuk lahiran nanti, masa harus kepakai..” tanyaku sambil mata berkaca-kaca.
“sudahlah, kamu jangan pikirkan soal biaya..” hanya itu jawaban yang selalu di jawab oleh suami.
5 hari di rawat.. tibalah penebusan dosa eh, adiminitrasi maksudnya.
“berapa kang semuanya?” Tanyaku.
“ dua juta empat ratus, Alhamdulillah dapat tambahan rezeki kemarin” jawabnya.
“dari mana?” aku bertanya heran.
“temanku, dia minta bantuan untuk menyelesaikan masalah laporan pajak yang tertunda selama 2 tahun. Untuk ucapan terima kasihnya dia memberikan upah..”
“alhmdulillah..” sungguh, doa dan kecemasanku terjawab.
“insya allah, bulan depan juga dapat rembesan dari perusahaan..” itu lebih menenangkanku.
Ya… benar menurut firman Allah swt.. “berdoalah, niscaya aku kabulkan..”
Lantas, masihkah kita mengabaikan kekuatan doa???
Rancaekek, 27 Januari 2015.
Maryanah_strong.
Rabu, 13 Maret 2013
Belia “beli”-an
“pasti kamu sedih..” ucap Sali sangat datar. Dia berusaha tak menampakan perasaannya.
“Udah jelaslah sal, kemarin malam aku sama dia berantem.. emang sih masalahnya sepele, tapi gak tau kenapa dia suka minta putus-putus gitu, kadang dia nuduh aku yang nggak-nggak, padahal harus gimana lagi supaya dia percaya sama aku..” jelas Arya panjang lebar.
Suasana mendadak sepi. Sali terdiam.
“Lho, kamu malah diam?” Tanya Arya. Sali menggeleng kepalanya.
“udah ah ah, aku mau pulang duluan” Arya pergi dengan muka yang kacau. Dia meninggalkan Sali sendirian dibawah rindang pohon Flamboyan di halaman sekolah.
Ada butiran air mata mengiringi kepergian Arya. Seandainya dia tahu yang sebenarnya…
Satu persatu daun kering berguguran bersama hembusan angin, matahari sudah mulai terbenam namun Sali masih tak mau beranjak dari tempatnya. Dia masih saja menangis, sedih akan sikap Arya.
**
“Cit, kamu tau gak kalo udah 3 hari ini Arya sakit?” Tanya Sali. Citra menatapnya lurus.
“terus? Apa salah gua kalo dia sakit?!” jawab Citra sinis. Sali membalas tatapan itu.
“kalo iya, gimana?” Citra diam.
“bukannya kalian pacaran? Tapi kenapa lo gak pernah perhatian sama Arya?!” kata Sali nadanya sedikit meninggi. Dia kesal dengan cewek itu.
2 mata saling memandang, keduanya tetap tak mau mengalah. Beberapa menit kemudian.
“kamu ikut aku sekarang!” Sali segera menyambar tangan Citra.
“ih… apa-apan sih! Norak banget sih lo! Lepasin tangan gua!” namun Sali tetap membawa citra kesuatu tempat. Citra tetap berontak.
“kamu tunggu disini” pinta Sali.
Dengan kesal Citra menunggu diluar sebuah Wartel dekat sekolah. Tak lama kemudian
“Cit, sini masuk”
Citra menghampiri dengan sedikit kebingungan.
“Nih, Arya mau ngomong” Sali menyerahkan gagang telepon itu pada Citra.
Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas hati Sali sangat sakit. Namun dia lakukan itu untuk Arya, cowok yang disukainya. Karena tak tahan akan menangis Sali segera pergi menuju kelas meninggalkan Citra dan Arya.
**
“Sal ada surat!” panggil neneknya Sali. Pasti dari kedua orang tuanya. Yah, selama SMA ini Sali memang terpisah dari ibu dan bapaknya untuk sekolah. Sali sebenarnya berasal dari sebuah desa terpencil di Garut.
Sudah setumpuk surat dari ibu bapaknya yang tersimpan rapi dilemari usang Sali. Kali ini entah apa isinya. Perlahan-lahan ditengah cahaya lampu 5 watt yang temaram Sali membuka surat itu.
“Sali, apa kabarmu nak? Ibu dan bapak sudah kangen, kelima adikmu juga sangat ingin bertemu denganmu.
Anakku Sali, kamu adalah anak kami yang palng besar. Semula kami ingin menyekolahkan kamu hingga perguruan tinggi tapi kami adalah orang tua yang miskin, begitu banyak hutang dimana-mana.
Maafkan kami anakku, jika kami terpaksa memintamu untuk berhenti sekolah. Kami butuh orang yang ikut membantu untuk menambah penghasilan. Sangat berat hati kami minta kamu pulang ke garut nak!...”
Lagi-lagi air mata Sali jatuh, dia tak kuasa untuk membaca lagi surat itu. Jika dia putus sekolah maka cita-citanya menjadi guru akan hilang, dan itu juga berarti dia akan berpisah dengan Arya. Sahabat sekaligus cowok yang disukainya.
“kenapa hidup tak adil begini?” Tanya hati Sali. Surat itu basah oleh butiran air mata Sali.
Dia tak buru-buru untuk bercerita pada sang nenek.
**
“Arya, aku mau ngomong sesuatu” ajak Sali. Arya menoleh. Dia tersenyum pada Sali dengan senyuman yang manis. Sali sedikit tertunduk.
“sini aja, tapi jangan lama-lama yah.., aku udah ada janji sama Citra” Sali mengangguk.
“a.. a…aku harus pulang nih ke Garut” kata Sali.
“oh pulang kampung? Ya udah hati-hati yah Sal, pulangnya bawa Cokodot yah hehehe..” Arya terkekeh.
“bukan, begini maksudku itu…”
“Arya!” panggil seseorang memotong ucapan Sali. Yup, dia Citra.
“aduh sory yah Sal, ntar kita sambung lagi, kalo kelamaan si dia bisa marah..” kilah Arya, segera langkahnya melaju meninggalkan Sali yang diam berdiri mematung. Sosok Arya yang berlari dia simpan kuat di ingatannya.
“selamat tinggal ya…, semoga kamu bahagia selamanya” kali ini Sali tak menangis, meski dadanya sakit dan terasa pengap.
Matanya masih mengamati Arya yang tengah mencubit mesra pipi Citra lalu memegang tangannya. Menuntun ke tempat parkir motor.
“sudahlah sal, kamu gak boleh sedih terus..” bisik hatinya.
Sesudah Arya dan Citra pergi diapun segera berpamitan pada guru-guru disekolah, terutama guru Matematika kesayanganya, Bu Dika.
“sayang… sebenarnya ibu gak rela kamu putus sekolah” air mata Bu Dika tak mau berhenti. Ada keharuan menyeruak diruangan guru itu.
“tetap optimis ya anakku..” lanjut kata Bu Dika. Sali menangis sejadinya dipelukan Bu Dika.
Hari itu Sali pergi naik angkot, jika biasanya dia jalan kaki, itu karena hari ini dia ingin segera pergi meninggalkan sekolahnya yang begitu berbekas dihatinya.
**
“sal, kamu harus tabah ya! Kita beda sama orang-orang kaya sana. Bisa makan enak, bisa jajan dan sekolah. Nah kalo kita orang miskin begini. Kalo sekolah ya mana mungkin bisa buat makan” ucap neneknya berusaha menghibur.
Dibawah bantal yang sudah lapuk dan lepet air mata Sali berjatuhan bak hujan deras, dia menangis sesegukan, dadanya terasa pengap. Dia ingin sepert yang lainnya, melanjutkan sekolah.
“tapi nek, apa orang miskin seperti kita dilarang punya mimpi?!” Tanya Sali.
‘kamu punya mimpi apa sih sal? Yang penting buat kita bisa makan”
“itu bohong, setiap manusia berhak buat punya impian nek…gimana bisa maju hidup kita kalo Cuma berkutat sama makan!” balas Sali. Sang nenek tak menjawab.
**
Di bis yang pengap dan panas juga berdesak-desakan Sali berhimpitan dengan sepasang anak muda-mudi yang tengah bermesraan. Dia kesal sekali pada mereka, mengingatkan saja pada Arya dan Citra.
“ah apa kabar dengan mereka? Bagaimana Arya sekarang? Apa dia sedih dengan kepergiaanya? Ah, tentunya tak mungkin, jika Citra yang pergi baru dia sedih” fikirnya.
Perjalanan yang cukup melelahkan mengantarkannya pada desa tempat kecilnya itu, sebuah desa yang terbentang pesawahan yang luas, sejuk, disisi jalan berjajar pohon pisang. Matahari sore menyorot bayangan tubuhnya yang kecil semampai. Kulitnya yang bersih seakan emas yang berkilauan. Tinggal beberapa meter lagi dia sampai dirumah.
Namun yang disaksikannya adalah rumahnya yang telah disegel. Kosong dan telah usang, banyak debu serta tulisan “DISITA’.
“kemana bapak dan ibu?” Tanya nya bingung. Lalu seorang tetangga memanggilnya.
“duh, neng Sali.. rumah itu udah di ambil oleh juragan koswara. Keluarga neng udah pindah ke kontrakan bu Yati” tanpa pikir panjang lagi Sali segera berlari menuju kontrakan.
**
“Cit, kamu tega banget yah! Kita belum putus juga kenapa kamu udah selingkuh sama Kak Rio?!” teriak Arya sangat marah.
“lo mestinya nyadar, gue mau pacaran sama lo karena kasian aja!”
Bruk!! Dunia serasa runtuh bagi Arya. Tiba-tiba dia mengingat Sali.
**
“sayang… sudilah kamu terima tawaran ibu dan bapakmu ini! Ibu mohon!” desak ibu Sali.
“tapi… ni gak adil bu. Kemarin dalam surat ibu bilang buat nyuruh bantu kerja, tap kok sekarang malah maksa-maksa Sali buat mau nikah!” elak Sali.
“tapi kami terdesak, coba kalau kami terus terang pasti kamu gak mau pulang..” jawab ibunya.
“kami mohon Sali, hutang kita udah terlalu banyak…”
Sali segera beranjak pergi keluar dari kontrakan itu. Ditengah hujan deras.
“Sali…! Sali…! Mau kemana kamu.. kembali nak!” teriakan itu tak digubris.
Langkah kaki Sali melesat menerjang hujan deras dan menembus jalan yang buruk diantara kebun singkong. Entah akan kemana dia, yang pasti hatinya sangat sakit.
Saat lelah, kakinya terseok batu dan terjatuh. Air matanya tak bisa lagi dibedakan dengan air hujan. Tubuhnya basah dan kedinginan, namun dia tak peduli itu, dia hanya ingin keadaannya berubah tak seperti ini.
**
“perempuan itu yang penting dalam hidupnya yah nikah sama laki-laki baik dan kaya. Pasti bahagia”
“buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh ntar juga ngulek sambel lagi”
“kubur mimpi mu nak, gak usah pengen nikah sama yang kita cintai, perempuan lebih baik dicintai biar nanti terjamin hidupnya.”
Puluhan kata-kata masuk ditelinganya.
“Untuk seperti itukah hidup perempuan diciptakan?
Begitu rendahkah perempuan untuk sekedar dihargai dan didengar hatinya?
Tabukah perempuan mempunyai impian untuk maju?
Haramkah tangan kami menyentuh kertas dan pena?
Benarkan kami, para perempuan diciptakan hanya untuk melayani dan melahirkan?
Tak pantaskah kami untuk meraih cinta-cinta yang kami anggap patut untuk kami dapatkan juga?”
Hari itu Sali bersanding dengan anak juragan Koswara. Sehingga lunaslah hutang keluarganya. Dalam lubuk hati Sali, dia seperti gadis belian, yang punya “harga” untuk dpasarkan, dibeli, lunas dan dimiliki. Padahal diapun punya impian dan cinta yang tak mungkin bisa ada “harga’’ untuk membelinya.
Namun dia berjanji kelak, anak perempuannya tak akan mengalami kepedihan seperti ini. Sepert dirinya dan perempuan-perempuan lain didesanya. Anak perempuannya harus sekolah tinggi dan punya cita-cita, juga berhak untuk mendapatkan cinta.
**
Arya tertegun saat melihat Sali yang menyapu halaman rumah yang luas, dia tertegun melhat perut Sali yang besar. Itukah Sali sekarang?
Arya menyesal…
Sangat menyesal …
By: maryanah_strong.
Rancaekek, 13 Maret 2013.
Pukul 17;12.
“Dibalik kodrat kita, jangan menyerah jika kita punya mimpi, punya potensi dan juga punya cinta, karena… Setiap perempuan berhak bahagia”
“Udah jelaslah sal, kemarin malam aku sama dia berantem.. emang sih masalahnya sepele, tapi gak tau kenapa dia suka minta putus-putus gitu, kadang dia nuduh aku yang nggak-nggak, padahal harus gimana lagi supaya dia percaya sama aku..” jelas Arya panjang lebar.
Suasana mendadak sepi. Sali terdiam.
“Lho, kamu malah diam?” Tanya Arya. Sali menggeleng kepalanya.
“udah ah ah, aku mau pulang duluan” Arya pergi dengan muka yang kacau. Dia meninggalkan Sali sendirian dibawah rindang pohon Flamboyan di halaman sekolah.
Ada butiran air mata mengiringi kepergian Arya. Seandainya dia tahu yang sebenarnya…
Satu persatu daun kering berguguran bersama hembusan angin, matahari sudah mulai terbenam namun Sali masih tak mau beranjak dari tempatnya. Dia masih saja menangis, sedih akan sikap Arya.
**
“Cit, kamu tau gak kalo udah 3 hari ini Arya sakit?” Tanya Sali. Citra menatapnya lurus.
“terus? Apa salah gua kalo dia sakit?!” jawab Citra sinis. Sali membalas tatapan itu.
“kalo iya, gimana?” Citra diam.
“bukannya kalian pacaran? Tapi kenapa lo gak pernah perhatian sama Arya?!” kata Sali nadanya sedikit meninggi. Dia kesal dengan cewek itu.
2 mata saling memandang, keduanya tetap tak mau mengalah. Beberapa menit kemudian.
“kamu ikut aku sekarang!” Sali segera menyambar tangan Citra.
“ih… apa-apan sih! Norak banget sih lo! Lepasin tangan gua!” namun Sali tetap membawa citra kesuatu tempat. Citra tetap berontak.
“kamu tunggu disini” pinta Sali.
Dengan kesal Citra menunggu diluar sebuah Wartel dekat sekolah. Tak lama kemudian
“Cit, sini masuk”
Citra menghampiri dengan sedikit kebingungan.
“Nih, Arya mau ngomong” Sali menyerahkan gagang telepon itu pada Citra.
Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas hati Sali sangat sakit. Namun dia lakukan itu untuk Arya, cowok yang disukainya. Karena tak tahan akan menangis Sali segera pergi menuju kelas meninggalkan Citra dan Arya.
**
“Sal ada surat!” panggil neneknya Sali. Pasti dari kedua orang tuanya. Yah, selama SMA ini Sali memang terpisah dari ibu dan bapaknya untuk sekolah. Sali sebenarnya berasal dari sebuah desa terpencil di Garut.
Sudah setumpuk surat dari ibu bapaknya yang tersimpan rapi dilemari usang Sali. Kali ini entah apa isinya. Perlahan-lahan ditengah cahaya lampu 5 watt yang temaram Sali membuka surat itu.
“Sali, apa kabarmu nak? Ibu dan bapak sudah kangen, kelima adikmu juga sangat ingin bertemu denganmu.
Anakku Sali, kamu adalah anak kami yang palng besar. Semula kami ingin menyekolahkan kamu hingga perguruan tinggi tapi kami adalah orang tua yang miskin, begitu banyak hutang dimana-mana.
Maafkan kami anakku, jika kami terpaksa memintamu untuk berhenti sekolah. Kami butuh orang yang ikut membantu untuk menambah penghasilan. Sangat berat hati kami minta kamu pulang ke garut nak!...”
Lagi-lagi air mata Sali jatuh, dia tak kuasa untuk membaca lagi surat itu. Jika dia putus sekolah maka cita-citanya menjadi guru akan hilang, dan itu juga berarti dia akan berpisah dengan Arya. Sahabat sekaligus cowok yang disukainya.
“kenapa hidup tak adil begini?” Tanya hati Sali. Surat itu basah oleh butiran air mata Sali.
Dia tak buru-buru untuk bercerita pada sang nenek.
**
“Arya, aku mau ngomong sesuatu” ajak Sali. Arya menoleh. Dia tersenyum pada Sali dengan senyuman yang manis. Sali sedikit tertunduk.
“sini aja, tapi jangan lama-lama yah.., aku udah ada janji sama Citra” Sali mengangguk.
“a.. a…aku harus pulang nih ke Garut” kata Sali.
“oh pulang kampung? Ya udah hati-hati yah Sal, pulangnya bawa Cokodot yah hehehe..” Arya terkekeh.
“bukan, begini maksudku itu…”
“Arya!” panggil seseorang memotong ucapan Sali. Yup, dia Citra.
“aduh sory yah Sal, ntar kita sambung lagi, kalo kelamaan si dia bisa marah..” kilah Arya, segera langkahnya melaju meninggalkan Sali yang diam berdiri mematung. Sosok Arya yang berlari dia simpan kuat di ingatannya.
“selamat tinggal ya…, semoga kamu bahagia selamanya” kali ini Sali tak menangis, meski dadanya sakit dan terasa pengap.
Matanya masih mengamati Arya yang tengah mencubit mesra pipi Citra lalu memegang tangannya. Menuntun ke tempat parkir motor.
“sudahlah sal, kamu gak boleh sedih terus..” bisik hatinya.
Sesudah Arya dan Citra pergi diapun segera berpamitan pada guru-guru disekolah, terutama guru Matematika kesayanganya, Bu Dika.
“sayang… sebenarnya ibu gak rela kamu putus sekolah” air mata Bu Dika tak mau berhenti. Ada keharuan menyeruak diruangan guru itu.
“tetap optimis ya anakku..” lanjut kata Bu Dika. Sali menangis sejadinya dipelukan Bu Dika.
Hari itu Sali pergi naik angkot, jika biasanya dia jalan kaki, itu karena hari ini dia ingin segera pergi meninggalkan sekolahnya yang begitu berbekas dihatinya.
**
“sal, kamu harus tabah ya! Kita beda sama orang-orang kaya sana. Bisa makan enak, bisa jajan dan sekolah. Nah kalo kita orang miskin begini. Kalo sekolah ya mana mungkin bisa buat makan” ucap neneknya berusaha menghibur.
Dibawah bantal yang sudah lapuk dan lepet air mata Sali berjatuhan bak hujan deras, dia menangis sesegukan, dadanya terasa pengap. Dia ingin sepert yang lainnya, melanjutkan sekolah.
“tapi nek, apa orang miskin seperti kita dilarang punya mimpi?!” Tanya Sali.
‘kamu punya mimpi apa sih sal? Yang penting buat kita bisa makan”
“itu bohong, setiap manusia berhak buat punya impian nek…gimana bisa maju hidup kita kalo Cuma berkutat sama makan!” balas Sali. Sang nenek tak menjawab.
**
Di bis yang pengap dan panas juga berdesak-desakan Sali berhimpitan dengan sepasang anak muda-mudi yang tengah bermesraan. Dia kesal sekali pada mereka, mengingatkan saja pada Arya dan Citra.
“ah apa kabar dengan mereka? Bagaimana Arya sekarang? Apa dia sedih dengan kepergiaanya? Ah, tentunya tak mungkin, jika Citra yang pergi baru dia sedih” fikirnya.
Perjalanan yang cukup melelahkan mengantarkannya pada desa tempat kecilnya itu, sebuah desa yang terbentang pesawahan yang luas, sejuk, disisi jalan berjajar pohon pisang. Matahari sore menyorot bayangan tubuhnya yang kecil semampai. Kulitnya yang bersih seakan emas yang berkilauan. Tinggal beberapa meter lagi dia sampai dirumah.
Namun yang disaksikannya adalah rumahnya yang telah disegel. Kosong dan telah usang, banyak debu serta tulisan “DISITA’.
“kemana bapak dan ibu?” Tanya nya bingung. Lalu seorang tetangga memanggilnya.
“duh, neng Sali.. rumah itu udah di ambil oleh juragan koswara. Keluarga neng udah pindah ke kontrakan bu Yati” tanpa pikir panjang lagi Sali segera berlari menuju kontrakan.
**
“Cit, kamu tega banget yah! Kita belum putus juga kenapa kamu udah selingkuh sama Kak Rio?!” teriak Arya sangat marah.
“lo mestinya nyadar, gue mau pacaran sama lo karena kasian aja!”
Bruk!! Dunia serasa runtuh bagi Arya. Tiba-tiba dia mengingat Sali.
**
“sayang… sudilah kamu terima tawaran ibu dan bapakmu ini! Ibu mohon!” desak ibu Sali.
“tapi… ni gak adil bu. Kemarin dalam surat ibu bilang buat nyuruh bantu kerja, tap kok sekarang malah maksa-maksa Sali buat mau nikah!” elak Sali.
“tapi kami terdesak, coba kalau kami terus terang pasti kamu gak mau pulang..” jawab ibunya.
“kami mohon Sali, hutang kita udah terlalu banyak…”
Sali segera beranjak pergi keluar dari kontrakan itu. Ditengah hujan deras.
“Sali…! Sali…! Mau kemana kamu.. kembali nak!” teriakan itu tak digubris.
Langkah kaki Sali melesat menerjang hujan deras dan menembus jalan yang buruk diantara kebun singkong. Entah akan kemana dia, yang pasti hatinya sangat sakit.
Saat lelah, kakinya terseok batu dan terjatuh. Air matanya tak bisa lagi dibedakan dengan air hujan. Tubuhnya basah dan kedinginan, namun dia tak peduli itu, dia hanya ingin keadaannya berubah tak seperti ini.
**
“perempuan itu yang penting dalam hidupnya yah nikah sama laki-laki baik dan kaya. Pasti bahagia”
“buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh ntar juga ngulek sambel lagi”
“kubur mimpi mu nak, gak usah pengen nikah sama yang kita cintai, perempuan lebih baik dicintai biar nanti terjamin hidupnya.”
Puluhan kata-kata masuk ditelinganya.
“Untuk seperti itukah hidup perempuan diciptakan?
Begitu rendahkah perempuan untuk sekedar dihargai dan didengar hatinya?
Tabukah perempuan mempunyai impian untuk maju?
Haramkah tangan kami menyentuh kertas dan pena?
Benarkan kami, para perempuan diciptakan hanya untuk melayani dan melahirkan?
Tak pantaskah kami untuk meraih cinta-cinta yang kami anggap patut untuk kami dapatkan juga?”
Hari itu Sali bersanding dengan anak juragan Koswara. Sehingga lunaslah hutang keluarganya. Dalam lubuk hati Sali, dia seperti gadis belian, yang punya “harga” untuk dpasarkan, dibeli, lunas dan dimiliki. Padahal diapun punya impian dan cinta yang tak mungkin bisa ada “harga’’ untuk membelinya.
Namun dia berjanji kelak, anak perempuannya tak akan mengalami kepedihan seperti ini. Sepert dirinya dan perempuan-perempuan lain didesanya. Anak perempuannya harus sekolah tinggi dan punya cita-cita, juga berhak untuk mendapatkan cinta.
**
Arya tertegun saat melihat Sali yang menyapu halaman rumah yang luas, dia tertegun melhat perut Sali yang besar. Itukah Sali sekarang?
Arya menyesal…
Sangat menyesal …
By: maryanah_strong.
Rancaekek, 13 Maret 2013.
Pukul 17;12.
“Dibalik kodrat kita, jangan menyerah jika kita punya mimpi, punya potensi dan juga punya cinta, karena… Setiap perempuan berhak bahagia”
Selasa, 12 Maret 2013
aku perempuanmu
sayang...
aku adalah milikmu
satu-satunya perempuan yang telah tersimpan namanya
sebelum kamu ada dibumi ini
perempuan ini hanya untukmu
diantara milyaran perempuan yang Dia ciptakan
sayang...
perempuan ini bisa sedih dan menangis tanpa kamu tahu
saat perempuan ini mendengar nama perempuan lain dimulutmu
perempuan yang hanya datang seperti bayangan
namun kamu anggap dia ada.
sayang ...
perempuan ini bisa memberimu lebih dari apa yang pernah kamu berikan
sebuah cinta, ketenangan dan kenangan
perempuan ini yang akan membawamu menembus syurga
dan mempersembahkan kepadamu senyum tuhan.
sayang ...
perempuan ini memang datang kepadamu sebelum perempuan bayangmu dimasa lalu
namun percayalah perempuan ini ada sebelum kamu ada
bisakah kamu lupakan bayanganmu itu?
lantas lihat perempuan ini seutuhnya
tanpa terbagi kenangan dengan perempuan bayangmu
sayang...
perempuan ini rela sakit untukmu
perempuan ini rela mati untukmu
perempuan ini rela lelah untukmu
perempuan ini rela mengandung anakmu
perempuan ini rela mengasihimu dan anakmu
sayang...
hanya perempuan ini yang bisa membuatmu sempurna ditengah keterbatasanmu...
perempuan ini tak minta apa-apa
perempuan ini hanya minta cinta yang setia..
aku adalah milikmu
satu-satunya perempuan yang telah tersimpan namanya
sebelum kamu ada dibumi ini
perempuan ini hanya untukmu
diantara milyaran perempuan yang Dia ciptakan
sayang...
perempuan ini bisa sedih dan menangis tanpa kamu tahu
saat perempuan ini mendengar nama perempuan lain dimulutmu
perempuan yang hanya datang seperti bayangan
namun kamu anggap dia ada.
sayang ...
perempuan ini bisa memberimu lebih dari apa yang pernah kamu berikan
sebuah cinta, ketenangan dan kenangan
perempuan ini yang akan membawamu menembus syurga
dan mempersembahkan kepadamu senyum tuhan.
sayang ...
perempuan ini memang datang kepadamu sebelum perempuan bayangmu dimasa lalu
namun percayalah perempuan ini ada sebelum kamu ada
bisakah kamu lupakan bayanganmu itu?
lantas lihat perempuan ini seutuhnya
tanpa terbagi kenangan dengan perempuan bayangmu
sayang...
perempuan ini rela sakit untukmu
perempuan ini rela mati untukmu
perempuan ini rela lelah untukmu
perempuan ini rela mengandung anakmu
perempuan ini rela mengasihimu dan anakmu
sayang...
hanya perempuan ini yang bisa membuatmu sempurna ditengah keterbatasanmu...
perempuan ini tak minta apa-apa
perempuan ini hanya minta cinta yang setia..
Jumat, 01 Maret 2013
Dari Seribu Ibu
Perempuan itu masih saja enggan melihat wajah sang bayi, badannya tetap membelakangi tanpa mau peduli tangisan dan rengekan buah hatinya. Sudah seminggu yang lalu dia melahirkan, semua orang tak mengerti dengan sikap perempuan itu, padahal sebelumnya dia begitu menginginkan anak.
Sang suami, kadang-kadang ibu mertuanya bergantian membuat susu, mengganti popok dan memandikan sang bayi. Namun sekarang mereka berdua kewalahan karena bayi itu mengalami demam tinggi. Yang dia butuhkan adalah dekapan dan perhatian sang ibu, namun lagi-lagi perempuan itu akan marah jika dipaksa untuk sekedar memeluknya.
“jauhkan dia dariku!”
“aku benci dia!”
Perempuan itu pun tak mengerti kenapa dirinya menjadi begitu enggan dengan kehadiran buah hatinya, tapi yang pasti dia masih merasa bahwa perjalanannya menjadi ibu begitu berat dan menyakitkan.
“ada apa dengan istri saya dok?”
“dia terkena baby blues syndrome..”
Suaminya langsung tertegun menatap nanar kedua perempuan yang amat dicintainya, istri dan anak perempuannya.
**
Dirumah kosong jauh dari pemukiman warga perempuan belia itu sembunyi. Darah masih mengalir dikakinya, sedangkan tangisan bayi semakin membuatnya panik. Dia harus segera menemukan sesuatu, entah itu kardus, kantong kresek atau tas bekas.
Nafasnya terengah-engah, lagi-lagi dia terjatuh karena kelelahan. Gadis belia itu baru saja melahirkan anak hasil hubungannya dengan sang pacar. Padahal 2 minggu lagi dia harus mengikuti Ujian Nasional.
Tak ada yang bisa dipakai untuk menyembunyikan bayi itu, akhirnya sang bayi merah pun dibuangnya langsung ke sungai yang deras. Matanya kembali basah oleh air mata saat melihat tubuh mungil itu tergulung arus hingga jauh entah kemana…
Ingatannya merekam kuat saat tangan mungil sang bayi menggenggam erat rambutnya, begitupun mata sang bayi yang menatap wajahnya begitu dalam.
“maafkan ibu sayang….” Jerit nuraninya.
**
Kaos tangan mungil itu masih rapi tersimpan dilaci lemarinya, setiap melihat benda itu jantungnya berdetak keras. Perempuan itu merasa sangat berdosa dan hina…
Benda itu saksi satu-satunya yang tertinggal akan peristiwa rumit 6 tahun lalu, saat dia menjual bayi itu kepada orang lain karena tak mampu membayar persalinan.
Jika masih ada mungkin anaknya sudah kelas 1 SD dan sudah berada bersama keluarga kaya. Padahal perempuan itu tidak tahu kalau sang anak telah tiada, gijalnya dijual ke singapura dan terjerat perdagangan organ.
“sayang… ibu rindu..” air matanya menetes lagi.
**
Air mata tak berhenti mengalir disudut mata buah hatinya, sudah 8 hari anak bungsunya itu koma, inveksi di otak dan pendarahan di alat vital menjadi penderitaannya. Entah karena apa penyebabnya, namun yang pasti pihak rumah sakit dan kepolisian tengah serius membongkar sesuatu dibalik sakit anaknya itu. Perempuan itu tak mengerti yang terjadi, maklum dia hanya seorang pemulung yang tak pernah sekolah.
“anak ibu korban perkosaan…”
Ibunya tetap termangu, bingung.
“sama siapa?” Tanyanya datar.
“kami masih menyelidiki, ibu dan bapak bisa ikut kami ke kantor polisi untuk diminta keterangan?”
Sebenarnya ada apa? Hati perempuan itu masih bertanya-tanya. Sampai pada kemudian anaknya tak mampu lagi bertahan pada sakitnya kali ini, dia pergi. Anak bungsunya yang masih sangat belia.
Kebingungan sang ibu pun terjawab, bahwa suaminyalah penyebab kematian itu. Seseorang yang tak pernah dia sangka tega berbuat keji melakukan perkosaan pada anaknya sendiri. Kurang apa lagi dirinya sebagai istri?
Kini perempuan itu mengerti, air mata sang anak saat terbaring sakit adalah bahasa tubuh yang melukiskan betapa batinnya terluka.
Sang suami, kadang-kadang ibu mertuanya bergantian membuat susu, mengganti popok dan memandikan sang bayi. Namun sekarang mereka berdua kewalahan karena bayi itu mengalami demam tinggi. Yang dia butuhkan adalah dekapan dan perhatian sang ibu, namun lagi-lagi perempuan itu akan marah jika dipaksa untuk sekedar memeluknya.
“jauhkan dia dariku!”
“aku benci dia!”
Perempuan itu pun tak mengerti kenapa dirinya menjadi begitu enggan dengan kehadiran buah hatinya, tapi yang pasti dia masih merasa bahwa perjalanannya menjadi ibu begitu berat dan menyakitkan.
“ada apa dengan istri saya dok?”
“dia terkena baby blues syndrome..”
Suaminya langsung tertegun menatap nanar kedua perempuan yang amat dicintainya, istri dan anak perempuannya.
**
Dirumah kosong jauh dari pemukiman warga perempuan belia itu sembunyi. Darah masih mengalir dikakinya, sedangkan tangisan bayi semakin membuatnya panik. Dia harus segera menemukan sesuatu, entah itu kardus, kantong kresek atau tas bekas.
Nafasnya terengah-engah, lagi-lagi dia terjatuh karena kelelahan. Gadis belia itu baru saja melahirkan anak hasil hubungannya dengan sang pacar. Padahal 2 minggu lagi dia harus mengikuti Ujian Nasional.
Tak ada yang bisa dipakai untuk menyembunyikan bayi itu, akhirnya sang bayi merah pun dibuangnya langsung ke sungai yang deras. Matanya kembali basah oleh air mata saat melihat tubuh mungil itu tergulung arus hingga jauh entah kemana…
Ingatannya merekam kuat saat tangan mungil sang bayi menggenggam erat rambutnya, begitupun mata sang bayi yang menatap wajahnya begitu dalam.
“maafkan ibu sayang….” Jerit nuraninya.
**
Kaos tangan mungil itu masih rapi tersimpan dilaci lemarinya, setiap melihat benda itu jantungnya berdetak keras. Perempuan itu merasa sangat berdosa dan hina…
Benda itu saksi satu-satunya yang tertinggal akan peristiwa rumit 6 tahun lalu, saat dia menjual bayi itu kepada orang lain karena tak mampu membayar persalinan.
Jika masih ada mungkin anaknya sudah kelas 1 SD dan sudah berada bersama keluarga kaya. Padahal perempuan itu tidak tahu kalau sang anak telah tiada, gijalnya dijual ke singapura dan terjerat perdagangan organ.
“sayang… ibu rindu..” air matanya menetes lagi.
**
Air mata tak berhenti mengalir disudut mata buah hatinya, sudah 8 hari anak bungsunya itu koma, inveksi di otak dan pendarahan di alat vital menjadi penderitaannya. Entah karena apa penyebabnya, namun yang pasti pihak rumah sakit dan kepolisian tengah serius membongkar sesuatu dibalik sakit anaknya itu. Perempuan itu tak mengerti yang terjadi, maklum dia hanya seorang pemulung yang tak pernah sekolah.
“anak ibu korban perkosaan…”
Ibunya tetap termangu, bingung.
“sama siapa?” Tanyanya datar.
“kami masih menyelidiki, ibu dan bapak bisa ikut kami ke kantor polisi untuk diminta keterangan?”
Sebenarnya ada apa? Hati perempuan itu masih bertanya-tanya. Sampai pada kemudian anaknya tak mampu lagi bertahan pada sakitnya kali ini, dia pergi. Anak bungsunya yang masih sangat belia.
Kebingungan sang ibu pun terjawab, bahwa suaminyalah penyebab kematian itu. Seseorang yang tak pernah dia sangka tega berbuat keji melakukan perkosaan pada anaknya sendiri. Kurang apa lagi dirinya sebagai istri?
Kini perempuan itu mengerti, air mata sang anak saat terbaring sakit adalah bahasa tubuh yang melukiskan betapa batinnya terluka.
9 Perempuan Semesta
Perempuan pertama..
Berdiri mematung di depan jendela dapur, tatapannya kosong mengamati ke 2 jagoan kecilnya yang tengah asyik bermain ditaman belakang rumah, sementara pisau dapur yang digenggamnya dan irisan wortel terbiar begitu saja. Lagi-lagi yang terpikir adalah hatinya yang bisa dikatakan 7 tahun sejak pernikahannya dirasakan telah mati. Suami yang telah bersamanya selama ini, yang telah memberikan apa saja demi kebahagiaannya masih belum bisa membuat hatinya bergetar sedikitpun. Malam-malam yang dilalui tanpa cinta, terasa hambar, yang selama ini diberikannya hanya sebuah pengabdian dan kewajiban, padahal apa yang kurang dari hidupnya sekarang? Ada suami yang begitu baik dan mencintainya, ada anak-anak yang sehat dan lucu, ada rumah besar yang melindunginya, ada banyak fasilitas yang memanjakannya… namun masih saja Nol dimata hatinya.. “ Katakan.. bagaimana agar bisa membuatmu jatuh cinta padaku?” kata itu meluncur dari mulut suaminya, tatkala sang istri hendak pergi ke rumah orang tuanya, meninggalkan ke dua anak yang menangis tak rela untuk ditinggalkan. Tak ada kata yang keluar dari sang istri, dengan dingin langkahnya berlalu meninggalkan semuanya.
**
Perempuan kedua..
Sebuah guci kecil hancur didepannya, terdengar tangis dan teriakan yang menyakitkan dari seorang perempuan tatkala pukulan demi pukulan membabi buta ditubuhnya, tak ada perlawanan sama sekali, padahal ini bukan kali pertamanya dia dijadikan pelampiasan kemarahan suami yang telah menikahinya selama 4 tahun. Tak ada yang tahu kalau sejak satu tahun pernikahannya, perilaku sang suami berubah drastis menjadi sangat emosional, berbeda sekali ketika masa pacaran dulu. Bahkan tembokpun seakan bisu menyaksikan setiap penyiksaan itu terjadi, semuanya bungkam termasuk sang istri. Perempuan itu tak berani untuk bercerita kepada siapapun tentang selama ini yang telah dialaminya.. Selalu saja mengelak ketika para tetangga atau keluarga bertanya tentang luka lebam yang menghiasi wajah atau tubuhnya.. Begitupun, perempuan itu tak berani untuk mengajukan cerai, berusaha sekuat tenaga untuk tetap mempertahankan pernikahannya.. “Karena aku terlalu mencintainya..”
**
Perempuan ke tiga “Tuhan.. aku ingin menikah, walaupun dengan siapapun..!” sang gadis yang kini genap berusia38 tahun itupun melingkari angka 23 di Kalender kamarnya. Ada butiran air mata melintasi pipinya yang sedikit demi sedikit berkeriput. Dia sangat ingin mempunyai suami dan anak, seperti ke 4 adiknya yang telah bahagia bersama keluarganya masing-masing. Selama ini bukan tak ada pemuda yang mendekatinya, hanya saja selalu ada peristiwa yang membuat mereka urung untuk menikahinya, dan itu sangat menyakitkan, terlebih dia sangat muak dengan komentar-komentar pada tetangga yang menyebutnya “Perawan Tua”.
**
Perempuan ke empat
“Maukah kamu menjadi istriku?” kata indah itu langsung melumpuhkah hati sang gadis. Dihari ulang tahunnya yang ke 18, bertepatan saat dia baru lulus SMU ternyata kekasih yang selama ini dipacarinya yang usianya 10 tahun lebih tua mengajak menikah.. Sangat tidak diduga, ini suatu kejutan yang sangat membahagiakan.. disaat banyak perempuan yang telah matang belum juga menikah ternyata dirinya dimudahkan untuk meraihnya. Cincin indah itupun melingkar dijari manis sang gadis, lalu sang kekasih mengecup dahinya.. “I Love You..”
**
Perempuan ke lima
Langkahnya gontai, sudah seharian ini dia berjalan sangat jauh dengan membawa koper yang cukup berat, gadis berbadan dua ini bingung hendak kemana malam ini dan malam-malam selanjutnya dia berlindung. Pagi kemarin dia di usir oleh keluarga saat tahu dirinya hamil oleh sang pacar yang tak mau bertanggung jawab yang kini entah ada dimana. Banyak hal yang menghantui pikirannya, ada rasa marah, dendam, benci dan rasa bersalah.. ada pilihan yang pikirkannya. mengaborsi kandungannya, bunuh diri atau membesarkan sang anak tanpa ayah.. “ Aku menyesal memberikan semuanya untukmu.., dimana kamu sekarang?” Dia teringat ketika sang pacar merengek-rengek minta bukti cinta kepada sang gadis dengan mempertaruhkan kesuciannya!
**
Perempuan ke enam Disudut ruangan kosong yang berukuran 5x4 meter itu terdapat seorang perempuan dengan rambut kusut dan pakaian yang lusuh, wajahnya pun terlihat sangat tak terurus, dia seharian tetap seperti itu, posisinya tak pernah berubah. “Dia akan berteriak dan mengamuk ketika mendengar suara anak kecil” “Kenapa?” “Dulu, 5 tahun yang lalu dia mengalami perkosaan dan melahirkan anak yang tak pernah diinginkannya. Mungkin, suara anak-anak mengingatkannya pada peristiwa kelam itu..” “Lantas dimana anaknya sekarang?” “Meninggal, saat dilahirkan” “Meninggal?” “Iya, meninggal dibunuh ibunya” terjawablah. Dan tak ada kata-kata lagi. “Perempuan yang malang..” ucap Psikiater sambil menutup pintu kamar no 9 Rumah Sakit Jiwa Sariningsih.
**
Perempuan ke tujuh
Kepulan asap rokok hampir memenuhi seluruh ruangan mungil yang telah ditempatinya selama 8 tahun, sejak ayah tirinya menjual dirinya kepada seorang germo. Usianya padahal baru 28 tahun tapi raut mukanya seperti jauh lebih tua 10 tahun, ini timbul karena rasa lelah yang selalu dipendamnya, tak pernah mampu ia bagi kepada siapapun. Baginya hidup hanya malapetaka, tak ada kebahagiaan. Mereka bilang dirinya adalah sampah masyarakat, mereka bilang dia adalah pelacur, mereka bilang dia adalah manusia kotor, dan mereka bilang dia pantas mati… Namun, tak pernah ada yang mau mengerti dirinya seperti ini karena ulah laki-laki juga.. Sebilah pisau dapur yang masih sangat tajam siap membelah urat nadi tangannya, perempuan itu bersiap untuk mati.
**
Perempuan ke delapan..
Malam adalah sahabat terbaiknya yang selalu setia untuk menemani hayalannya. Di dinding kamarnya banyak sekali foto sang lelaki pujaan yang selama ini di kagumi, namun tak pernah di katakan. Cinta adalah rahasia, perempuan muda ini tak pernah berani untuk mengungkapkan. Karena rasa malu, perempuan ini memutuskan untuk berdiam diri. Menahan sakit sendirian ketika melihat sang pujaan menggandeng perempuan lain, merasakan kebahagiaan ketika sang pujaan terlihat gembira. Menurutnya cinta yang dirasakannya adalah sangat tulus, tak mengharapkan apa-apa. Sampai kini dia tak pernah membagi cinta untuk lelaki lain, hanya untuk pujaan hatinya. Rasa malu tetap membungkus perasaan cintanya, hingga tanpa terasa di usianya yang senja dia tetap begitu, dan tidak pernah menikah, dia hanya menginginkan lelaki itu.
**
Perempuan ke Sembilan
“Nanti laporannya saya kirim ya, sekalian juga sama proposal yang baru diselesaikan agar proyek itu bisa segera kita dapatkan. Okeh, saya tunggu besok dikantor..” “ Sore ini saya ada presentasi penting, saya sibuk jangan ganggu saya , Ok?! Klik..!” “ Seminggu saya akan dinas ke Surabaya, tolong carikan hotel yang terbaik disana dan dekat ke lokasi kantornya juga” Bla.. Bla.. Kesibukannya terus menggunung. Namun ketika sang Ibu memintanya untuk segera menikah maka jawabannya selalu saja.. “Saya sibuk bu, karir saya yang terpenting dan bukanlah menikah…” Ibunya sedih mendengar jawaban puterinya itu. *** Melalui tulisan ini saya meysakini bahwa setiap perempuan mempunyai rahasianya sendiri yang tak akan pernah bisa dibagi kepada sisapapun kecuali kepada kematian.
Rancaekek, 7 Agustus 2011. pukul 12; 29.
Berdiri mematung di depan jendela dapur, tatapannya kosong mengamati ke 2 jagoan kecilnya yang tengah asyik bermain ditaman belakang rumah, sementara pisau dapur yang digenggamnya dan irisan wortel terbiar begitu saja. Lagi-lagi yang terpikir adalah hatinya yang bisa dikatakan 7 tahun sejak pernikahannya dirasakan telah mati. Suami yang telah bersamanya selama ini, yang telah memberikan apa saja demi kebahagiaannya masih belum bisa membuat hatinya bergetar sedikitpun. Malam-malam yang dilalui tanpa cinta, terasa hambar, yang selama ini diberikannya hanya sebuah pengabdian dan kewajiban, padahal apa yang kurang dari hidupnya sekarang? Ada suami yang begitu baik dan mencintainya, ada anak-anak yang sehat dan lucu, ada rumah besar yang melindunginya, ada banyak fasilitas yang memanjakannya… namun masih saja Nol dimata hatinya.. “ Katakan.. bagaimana agar bisa membuatmu jatuh cinta padaku?” kata itu meluncur dari mulut suaminya, tatkala sang istri hendak pergi ke rumah orang tuanya, meninggalkan ke dua anak yang menangis tak rela untuk ditinggalkan. Tak ada kata yang keluar dari sang istri, dengan dingin langkahnya berlalu meninggalkan semuanya.
**
Perempuan kedua..
Sebuah guci kecil hancur didepannya, terdengar tangis dan teriakan yang menyakitkan dari seorang perempuan tatkala pukulan demi pukulan membabi buta ditubuhnya, tak ada perlawanan sama sekali, padahal ini bukan kali pertamanya dia dijadikan pelampiasan kemarahan suami yang telah menikahinya selama 4 tahun. Tak ada yang tahu kalau sejak satu tahun pernikahannya, perilaku sang suami berubah drastis menjadi sangat emosional, berbeda sekali ketika masa pacaran dulu. Bahkan tembokpun seakan bisu menyaksikan setiap penyiksaan itu terjadi, semuanya bungkam termasuk sang istri. Perempuan itu tak berani untuk bercerita kepada siapapun tentang selama ini yang telah dialaminya.. Selalu saja mengelak ketika para tetangga atau keluarga bertanya tentang luka lebam yang menghiasi wajah atau tubuhnya.. Begitupun, perempuan itu tak berani untuk mengajukan cerai, berusaha sekuat tenaga untuk tetap mempertahankan pernikahannya.. “Karena aku terlalu mencintainya..”
**
Perempuan ke tiga “Tuhan.. aku ingin menikah, walaupun dengan siapapun..!” sang gadis yang kini genap berusia38 tahun itupun melingkari angka 23 di Kalender kamarnya. Ada butiran air mata melintasi pipinya yang sedikit demi sedikit berkeriput. Dia sangat ingin mempunyai suami dan anak, seperti ke 4 adiknya yang telah bahagia bersama keluarganya masing-masing. Selama ini bukan tak ada pemuda yang mendekatinya, hanya saja selalu ada peristiwa yang membuat mereka urung untuk menikahinya, dan itu sangat menyakitkan, terlebih dia sangat muak dengan komentar-komentar pada tetangga yang menyebutnya “Perawan Tua”.
**
Perempuan ke empat
“Maukah kamu menjadi istriku?” kata indah itu langsung melumpuhkah hati sang gadis. Dihari ulang tahunnya yang ke 18, bertepatan saat dia baru lulus SMU ternyata kekasih yang selama ini dipacarinya yang usianya 10 tahun lebih tua mengajak menikah.. Sangat tidak diduga, ini suatu kejutan yang sangat membahagiakan.. disaat banyak perempuan yang telah matang belum juga menikah ternyata dirinya dimudahkan untuk meraihnya. Cincin indah itupun melingkar dijari manis sang gadis, lalu sang kekasih mengecup dahinya.. “I Love You..”
**
Perempuan ke lima
Langkahnya gontai, sudah seharian ini dia berjalan sangat jauh dengan membawa koper yang cukup berat, gadis berbadan dua ini bingung hendak kemana malam ini dan malam-malam selanjutnya dia berlindung. Pagi kemarin dia di usir oleh keluarga saat tahu dirinya hamil oleh sang pacar yang tak mau bertanggung jawab yang kini entah ada dimana. Banyak hal yang menghantui pikirannya, ada rasa marah, dendam, benci dan rasa bersalah.. ada pilihan yang pikirkannya. mengaborsi kandungannya, bunuh diri atau membesarkan sang anak tanpa ayah.. “ Aku menyesal memberikan semuanya untukmu.., dimana kamu sekarang?” Dia teringat ketika sang pacar merengek-rengek minta bukti cinta kepada sang gadis dengan mempertaruhkan kesuciannya!
**
Perempuan ke enam Disudut ruangan kosong yang berukuran 5x4 meter itu terdapat seorang perempuan dengan rambut kusut dan pakaian yang lusuh, wajahnya pun terlihat sangat tak terurus, dia seharian tetap seperti itu, posisinya tak pernah berubah. “Dia akan berteriak dan mengamuk ketika mendengar suara anak kecil” “Kenapa?” “Dulu, 5 tahun yang lalu dia mengalami perkosaan dan melahirkan anak yang tak pernah diinginkannya. Mungkin, suara anak-anak mengingatkannya pada peristiwa kelam itu..” “Lantas dimana anaknya sekarang?” “Meninggal, saat dilahirkan” “Meninggal?” “Iya, meninggal dibunuh ibunya” terjawablah. Dan tak ada kata-kata lagi. “Perempuan yang malang..” ucap Psikiater sambil menutup pintu kamar no 9 Rumah Sakit Jiwa Sariningsih.
**
Perempuan ke tujuh
Kepulan asap rokok hampir memenuhi seluruh ruangan mungil yang telah ditempatinya selama 8 tahun, sejak ayah tirinya menjual dirinya kepada seorang germo. Usianya padahal baru 28 tahun tapi raut mukanya seperti jauh lebih tua 10 tahun, ini timbul karena rasa lelah yang selalu dipendamnya, tak pernah mampu ia bagi kepada siapapun. Baginya hidup hanya malapetaka, tak ada kebahagiaan. Mereka bilang dirinya adalah sampah masyarakat, mereka bilang dia adalah pelacur, mereka bilang dia adalah manusia kotor, dan mereka bilang dia pantas mati… Namun, tak pernah ada yang mau mengerti dirinya seperti ini karena ulah laki-laki juga.. Sebilah pisau dapur yang masih sangat tajam siap membelah urat nadi tangannya, perempuan itu bersiap untuk mati.
**
Perempuan ke delapan..
Malam adalah sahabat terbaiknya yang selalu setia untuk menemani hayalannya. Di dinding kamarnya banyak sekali foto sang lelaki pujaan yang selama ini di kagumi, namun tak pernah di katakan. Cinta adalah rahasia, perempuan muda ini tak pernah berani untuk mengungkapkan. Karena rasa malu, perempuan ini memutuskan untuk berdiam diri. Menahan sakit sendirian ketika melihat sang pujaan menggandeng perempuan lain, merasakan kebahagiaan ketika sang pujaan terlihat gembira. Menurutnya cinta yang dirasakannya adalah sangat tulus, tak mengharapkan apa-apa. Sampai kini dia tak pernah membagi cinta untuk lelaki lain, hanya untuk pujaan hatinya. Rasa malu tetap membungkus perasaan cintanya, hingga tanpa terasa di usianya yang senja dia tetap begitu, dan tidak pernah menikah, dia hanya menginginkan lelaki itu.
**
Perempuan ke Sembilan
“Nanti laporannya saya kirim ya, sekalian juga sama proposal yang baru diselesaikan agar proyek itu bisa segera kita dapatkan. Okeh, saya tunggu besok dikantor..” “ Sore ini saya ada presentasi penting, saya sibuk jangan ganggu saya , Ok?! Klik..!” “ Seminggu saya akan dinas ke Surabaya, tolong carikan hotel yang terbaik disana dan dekat ke lokasi kantornya juga” Bla.. Bla.. Kesibukannya terus menggunung. Namun ketika sang Ibu memintanya untuk segera menikah maka jawabannya selalu saja.. “Saya sibuk bu, karir saya yang terpenting dan bukanlah menikah…” Ibunya sedih mendengar jawaban puterinya itu. *** Melalui tulisan ini saya meysakini bahwa setiap perempuan mempunyai rahasianya sendiri yang tak akan pernah bisa dibagi kepada sisapapun kecuali kepada kematian.
Rancaekek, 7 Agustus 2011. pukul 12; 29.
Kamis, 14 Februari 2013
lelaki pilihan.
"lantas... apa aku sudah mencintainya?" pandangku pada sosok disampingku yang tengah terlelap tidur. perlahan-lahan aku meraba jantungku. tak ada getaran hebat seperti yang pernah aku rasakan. pikiranku melayang, bagaimana jika kelak aku tanpanya? apakah biasa-biasa saja?
"tapi aku sangat membutuhkannya..."
tidak hanya aku tapi anak-anakku juga membutuhkannya. kini aku tidak bisa egois, menjadi perempuan yang hanya berkutat pada perasaannya disaat ada hal yang lebih membutuhkan pengorbananku.
basi jika aku masih pusing dengan perasaan ini, lelah mencari cinta, padahal telah ada orang yang rela berkorban untukku apa saja. tak pantas dan patut aku menghianatinya. memang kadang aku iri dengan gadis lain, mereka menikah dengan laki-laki yang dicintainya lalu hidup bahagia. layaknya negeri dongeng...
sedangkan aku begitu malang harus mengalah pada takdir, mengabdikan seluruh hidupku sampai akhiratku untuk laki-laki yang satu ini, sekedar kewajiban, karena usia dan karena keinginanku menjadi ibu.
cinta memang tiba-tiba menghampiri, tapi ada pula cinta yang harus dijemput...
dan pernikahan adalah salah satu upaya untuk menjemput cinta itu...
bagaimanapun perasaanku pada suamiku, dia tetap laki-laki terbaik yang sangat aku hormati dan aku pilih.
Langganan:
Postingan (Atom)